Ditunjuk Iran Gantikan Ali Larijani, Siapa Mohammad Zolghadr? Ini Profil Lengkapnya
Newsporium Sabang – Ditunjuk Iran Gantikan Penunjukan Mohammad Bagher Zolghadr sebagai pengganti Ali Larijani menjadi sorotan global di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Pengganti Tokoh Kunci Iran
Ali Larijani sebelumnya merupakan salah satu figur paling berpengaruh di Iran, menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi hingga wafat pada Maret 2026 akibat serangan udara.
Posisi tersebut sangat strategis karena berada di jantung pengambilan keputusan keamanan dan kebijakan luar negeri Iran. Dewan ini mengoordinasikan militer, intelijen, dan pemerintahan dalam menghadapi ancaman nasional.
Sebagai penggantinya, Zolghadr otomatis menjadi salah satu orang paling berkuasa dalam struktur keamanan Iran.
Baca Juga: Ini Biang Kerok Harga Emas Anjlok dari Level Rp 3 Jutaan
Latar Belakang Militer Kuat
Ia berpangkat brigadir jenderal dan pernah terlibat dalam berbagai operasi strategis, termasuk selama perang Iran–Irak.
Jejak Politik dan Keamanan
Setelah aktif di militer, Zolghadr melanjutkan kariernya di bidang pemerintahan dan keamanan nasional. Ia pernah menduduki sejumlah posisi penting, antara lain:
Wakil komandan IRGC
Pejabat tinggi di Kementerian Dalam Negeri
Deputi di staf angkatan bersenjata
Penasihat di lembaga peradilan Iran
Sekretaris Dewan Kebijakan (Expediency Council) sejak 2021
Figur Garis Keras
Berbagai laporan menyebut Zolghadr sebagai tokoh konservatif garis keras.
Loyal terhadap ideologi negara
Berpengalaman dalam strategi militer
Tegas dalam menghadapi tekanan eksternal
Peran Strategis di Tengah Krisis
Sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, Zolghadr kini memiliki peran vital dalam:
Menentukan strategi militer Iran
Mengelola hubungan dengan negara-negara Barat
Mengoordinasikan respons terhadap konflik regional
Memberi rekomendasi langsung kepada pemimpin tertinggi Iran
Ditunjuk Iran Gantikan Sinyal Arah Baru Iran
Banyak analis menilai pengangkatan Zolghadr sebagai sinyal bahwa Iran akan semakin memperkuat posisi defensif sekaligus ofensifnya.
Hal ini berpotensi memperpanjang konflik dan memperumit upaya diplomasi internasional.














