Jelang Lebaran, 1.396 Pengungsi Bencana Masih Bertahan di Tenda di Aceh Tamiang
Newsporium Sabang – Jelang Lebaran 1.396 Pengungsi Menjelang Hari Raya Idulfitri, ratusan keluarga korban bencana di Kabupaten Aceh Tamiang masih harus menjalani kehidupan di tenda pengungsian. Tercatat sekitar 1.396 orang masih bertahan di tempat penampungan darurat setelah rumah mereka rusak akibat bencana yang melanda wilayah tersebut beberapa bulan lalu.
Kondisi ini menjadi perhatian pemerintah dan berbagai pihak karena para pengungsi harus menjalani Ramadan hingga mendekati Lebaran dalam situasi yang serba terbatas.
Bencana banjir besar yang melanda wilayah Sumatra pada akhir November 2025 menyebabkan kerusakan luas pada permukiman warga, termasuk di Aceh. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan terpaksa mengungsi dalam jangka waktu lama.
Hidup di Tenda Selama Berbulan-bulan
Sebagian besar pengungsi tinggal di tenda darurat yang didirikan di dekat desa mereka. Tenda tersebut menjadi tempat tinggal sementara bagi keluarga yang rumahnya rusak atau hanyut terbawa banjir.
Kehidupan di pengungsian tidak mudah, terutama ketika memasuki bulan Ramadan. Warga harus beradaptasi dengan kondisi terbatas, mulai dari fasilitas air bersih, sanitasi, hingga ruang tinggal yang sempit.
Beberapa warga bahkan harus memasak dan menyiapkan makanan sahur serta berbuka di dapur sederhana yang dibangun di sekitar tenda pengungsian.
Selain itu, banyak warga yang kehilangan mata pencaharian akibat bencana. Lahan pertanian rusak, usaha kecil berhenti, dan sebagian warga harus mencari pekerjaan serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Alasan Richard Lee Ditahan Mangkir Panggilan Polisi
Pemerintah Targetkan Tidak Ada Pengungsi Saat Lebaran
Pemerintah pusat dan daerah terus berupaya mempercepat penanganan pengungsi agar mereka dapat segera meninggalkan tenda darurat.
Pemerintah menargetkan agar sebelum Idulfitri para pengungsi sudah dapat menempati hunian sementara atau menerima bantuan dana untuk mencari tempat tinggal sementara yang lebih layak.
Namun, proses pembangunan dan relokasi masih membutuhkan waktu karena harus melalui berbagai tahapan, mulai dari pendataan korban hingga penyediaan lahan dan pembangunan fasilitas.
Harapan Pengungsi untuk Pulang
Bagi para pengungsi, Lebaran tahun ini menjadi momen yang penuh harapan. Mereka berharap dapat segera kembali ke rumah atau setidaknya tinggal di hunian yang lebih layak.
Banyak keluarga ingin merayakan Idulfitri dengan kondisi yang lebih baik setelah berbulan-bulan hidup dalam ketidakpastian.
Meski demikian, warga tetap berusaha menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran. Solidaritas antarwarga di pengungsian juga menjadi kekuatan utama untuk bertahan menghadapi situasi sulit.
Pemerintah daerah bersama berbagai lembaga kemanusiaan terus menyalurkan bantuan logistik, makanan, serta kebutuhan pokok lainnya agar para pengungsi dapat menjalani Ramadan hingga Lebaran dengan lebih baik.
Jelang Lebaran 1.396 Pengungsi Ribuan Korban Bencana Aceh Tamiang Masih Tinggal di Tenda
Suasana Ramadan di sejumlah titik pengungsian di Aceh Tamiang terasa berbeda tahun ini. Ratusan keluarga korban bencana masih tinggal di tenda darurat menjelang Idulfitri.
Sekitar 1.396 pengungsi tercatat masih menempati tenda setelah rumah mereka rusak akibat banjir besar yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu.
Setiap hari, aktivitas warga di pengungsian dimulai sejak dini hari ketika mereka bersiap untuk sahur. Dengan fasilitas terbatas, sebagian keluarga memasak menggunakan peralatan sederhana di dapur umum.
Pada malam hari, tenda-tenda pengungsian juga menjadi tempat warga menjalankan ibadah selama Ramadan.
Meski kondisi sulit, kebersamaan antarwarga membuat suasana pengungsian tetap terasa hangat.
Namun, para pengungsi berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan pembangunan hunian sementara sehingga mereka tidak perlu lagi merayakan Lebaran di tenda.
Ratusan Keluarga di Aceh Tamiang Sambut Lebaran dari Tenda Pengungsian
Bencana yang melanda Aceh Tamiang beberapa bulan lalu masih meninggalkan dampak besar bagi masyarakat. Hingga kini, sekitar 1.396 warga masih tinggal di tenda pengungsian.
Sebagian dari mereka kehilangan rumah akibat banjir yang merusak permukiman di sejumlah desa.
Memasuki akhir Ramadan, para pengungsi berharap proses pemulihan dapat segera selesai sehingga mereka bisa kembali ke kehidupan normal.
Pemerintah bersama berbagai instansi terkait terus berupaya mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak.














